Merawat Kebersamaan, Menjaga Keamanan: Natal dan Tahun Baru Bersama Pemuda Fatuteke Kefamenanu
Kegiatan Natal dan Tahun Baru Bersama Pemuda Fatuteke yang berlangsung aman dan damai menjadi contoh sinergi antara masyarakat dan Polri dalam menjaga situasi kamtibmas sebagai tanggung jawab bersama
Tribratanewsttu; Kefamenanu (10/1/2025) - Perayaan Natal dan Tahun Baru yang digelar pemuda-pemudi Fatuteke di Kelurahan Kefa Selatan, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Jumat (9/1/2026) malam, tidak hanya menjadi ruang ekspresi iman dan sukacita. Kegiatan tersebut sekaligus mencerminkan kesadaran kolektif warga dalam merawat keamanan dan ketertiban sebagai tanggung jawab bersama.
Acara yang berlangsung di Jalan Ahmad Yani, tepatnya di halaman rumah warga RT 03 RW 01, dihadiri oleh Bhabinkamtibmas Kelurahan Kefa Selatan Aipda Martinus Mala Pintu, tokoh lingkungan, para orang tua, serta kaum muda setempat. Kehadiran lintas generasi ini menghadirkan suasana kebersamaan yang hangat dan tertib.
Selama kegiatan berlangsung, Bhabinkamtibmas bersama panitia melakukan pengawasan secara persuasif. Imbauan disampaikan kepada seluruh peserta agar menjaga keamanan diri dan lingkungan, serta tidak mengonsumsi minuman beralkohol demi kelancaran acara.
“Kami berharap kegiatan ini dapat berjalan dengan aman, damai, dan penuh kebersamaan, apalagi masih dalam suasana Natal dan Tahun Baru,” ujar Aipda Martinus.

Pendampingan aparat kepolisian dalam kegiatan sosial-keagamaan ini mencerminkan pendekatan community policing, di mana keamanan dibangun melalui relasi sosial yang berbasis kepercayaan. Polisi hadir bukan sebagai pengendali semata, melainkan sebagai bagian dari komunitas yang ikut merawat harmoni sosial.
Bagi kaum muda Fatuteke, perayaan ini menjadi ruang belajar sosial. Kesediaan untuk menaati aturan bersama termasuk larangan konsumsi alkohol menunjukkan proses pendewasaan dan kesadaran bahwa kebebasan berekspresi harus berjalan seiring dengan tanggung jawab kolektif.
Perayaan Natal dan Tahun Baru Pemuda Fatuteke memperlihatkan bagaimana ruang kultural dan keagamaan dapat berfungsi sebagai sarana penguatan kohesi sosial. Dalam konteks ini, keamanan tidak berdiri sendiri, melainkan tumbuh dari solidaritas, pengendalian diri, serta penghormatan terhadap norma yang disepakati bersama.(wm)**


