Aksi Humanis Aipda Lius Selan, Saat Seragam Cokelat Merangkul Kemanusiaan di Desa Tublopo

Aksi Humanis Aipda Lius Selan, Saat Seragam Cokelat Merangkul Kemanusiaan di Desa Tublopo

Tribratanewsttu, Tublopo – Di tengah teriknya matahari yang membakar jalanan berbatu di Desa Tublopo, sebuah pemandangan menyejukkan hati tertangkap kamera pada Kamis (19/02/2026). Bukan tentang penegakan hukum yang kaku atau pengejaran pelaku kriminal, melainkan tentang sebuah pengabdian tulus yang melampaui tugas pokok kepolisian.

Aipda Lius Selan, seorang Bhabinkamtibmas yang dikenal ramah di wilayah tersebut, tertangkap kamera tengah memanggul seikat besar kayu bakar. Di sampingnya, sepasang lansia berjalan dengan langkah ringan, wajah mereka dihiasi senyum lebar yang tulus. Momen sederhana ini menjadi bukti nyata bahwa kehadiran Polri di tengah masyarakat bukan sekadar menjaga keamanan, melainkan menjadi bagian dari keluarga besar warga desa.

Kejadian bermula saat Aipda Lius sedang melaksanakan patroli rutin dialogis di kawasan Desa Tublopo. Di tengah perjalanannya, ia berpapasan dengan pasangan Lansia  yang tengah berjalan kaki membawa beban kayu bakar yang cukup berat di pundak mereka. Tanpa ragu dan tanpa diminta, Lius segera turun dari kendaraannya, menghampiri kedua lansia tersebut, dan mengambil alih beban kayu tersebut.

Sambil memanggul kayu di bahu kirinya, Lius tidak membiarkan suasana menjadi kaku. Ia justru melemparkan candaan kecil yang seketika memecah keheningan jalanan desa yang sepi.

Percakapanpun mengalir begitu saja layaknya antara anak dan orang tua. Aipda Lius bertanya tentang kesehatan mereka, hasil kebun, hingga memastikan situasi di lingkungan rumah mereka tetap aman. Di sisi lain, sang kakek tampak bercerita tentang masa mudanya sembari sesekali menepuk pundak sang polisi dengan akrab.

Aksi ini mencerminkan esensi dari tugas seorang Bhabinkamtibmas, menjadi ujung tombak Polri yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Bagi Lius, membantu mengangkat kayu bakar bukan hanya soal meringankan beban fisik, tetapi soal membangun kepercayaan dan rasa aman melalui empati.

Sesampainya di tujuan, rasa lelah seolah tak tampak di wajah Aipda Lius. Baginya, melihat senyum puas dari warga binaannya adalah upah yang jauh lebih berharga daripada sekadar apresiasi formal.

Kisah dari Desa Tublopo ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kemanusiaan tidak mengenal seragam. Di balik lencana bintang dan seragam cokelat yang gagah, terdapat hati yang peduli, hati yang siap merunduk untuk membantu mereka yang membutuhkan, memastikan bahwa Polri akan selalu ada, bukan hanya untuk mengayomi, tapi untuk mencintai rakyatnya.